Senin, 29 Oktober 2012

Kamera DSLR Tetap Primadona


.Oleh Taufiqurrahman

Arah perkembangan teknologi tidak dapat diprediksi dengan mudah. Dahulu, tidak sembarang orang yang memiliki kamera untuk mengabadikan momen. Bahkan untuk melihat hasil jepretan, mereka harus menunggu beberapa hari. Bahkan minggu. Dan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mencetaknya.

Namun, hari ini berbicara tentang kamera, hampir setiap orang pernah mengoperasikannya. Minimal kamera handphone. “Yang jelas, kamera sekarang tidak menjadi hal yang ‘waw’ apalagi istimewa” tutur  Ahmad Fatoni, mahasiswa semester sembilan,  jurusan Ilmu Komunikasi UIN Yogyakarta.

Menurutnya, meski banyak tersebar kamera-kamera saku (poket) di berbagai gerai toko-toko elektronik, kamera Digital Single Lens Reflex (DSRL) tetap menjadi primadona bagi fotografer baik yang amatir, semi profesional maupun profesional sekalipun.

Hal ini dibenarkan oleh fotografer Pers Mahasisa ARENAUIN Yogyakarta, Adul Majid. “Kamera DSLR dalam dunia jurnalistik sangat membantu sekali, selain mengabadikan moment kita bisa ekplorasi berbagai bentuk imajinasi frame foto, baik segi komposisi gambar, fokus angle objek, maupun ekspresi objek” ungkapnya.

Selain itu, keunggulan kamera DSLR adalah lebih banyak menyediakan fasilitas. Seperti adanya pemilihan ISO, White Balance, Present Scenes, Resolusi dan lain sebagainya.

“Fasilitas-fasilitas ini sangat mendukung sekali, terutama bagi pemula maupun profesional. Bagi pemula, menurut saya adalah ia mampu mencoba dan menggabungkan, beberapa ide dan spekulasi terhadap objek. Sehingga seorang pemula akan merasa tidak terbatasi oleh fasilitas paten. Seperti kamera poket maupun kamera handphone” pesan majid.

Sedangkan untuk profesinoal kamera DSLR menjadi urgen saat digunakan dalam bekerja. Contoh saja saat pemotretan-pemotrean prawidding, pernikahan dan pemotretan model. 

Bahkan dalam perkembangannya, kamera DSLR sangat beragam. Berbagai jenis, maupun tipe telah diluncurkan produsen-produsen internasional. Sepert Nikon, Canon,  dan Sony.

“Sampai saat ini, para pembeli rata-rata beragam, ada yang memang fanatik terhadap salah satu brand kamera. Tetapi  dikonter ini kebanyakan pembeli memilih kamera DSLR Canon EOS 550D” tukas, Andre, salah satu pelayan konter kamera, di Ramai Mall Yogyakarta

Kerudung Pasmina Untuk Hari Raya

Oleh Irma Suryani

Suasana idul adha masih terasa dalam keseharian kita. Semangat berkorban pun senantiasa didengungkan mengiringi indahnya bulan haji kali ini. Ketika momentum ini datang banyak toko yang menawarkan dresscode atau pakaian khusus untuk dikenakan waktu hari raya. Salah satunya yakni Rumah Mode Muslim Al-Fath yang mendisplay model kerudung Selendang Pasmina sebagai pilihan gaya berbusana.
Kerudung ini mempunyai banyak pilihan warna mulai dari warna cerah yang menggugah semangat, warna casual yang lembut, sampai warna gelap yang teduh. Motif pun beragam mulai dari polkadot, bergaris, dan bunga-bunga. Kerudung yang cocok dipadupadankan dengan ciput ninja ini terbuat dari bahan ceruti yang empuk dan lembut, sehingga cocok dipakai dimana saja.
Pada momen idul adha kali ini tidak ada patokan kerudung yang wajib dipakai. Namun diusahakan agar tidak menggunakan warna gelap atau hitam. Warna – warna lembut lebih diutamakan mengingat situasi hari raya yang bahagia. Seperti penuturan Normaera, “Kalau hari kurban paling bagus warna kalem seperti krem dan pastel”, ujar karyawati Rumah Mode Islam Al-Fath ini.
Jenis bahan yang ‘jatuh’ di badan membuatnya bisa dibentuk, diatur, dan dikreasikan ke berbagai gaya. Banyaknya pilihan warna juga menjadi keunggulan tersendiri yang membuat kerudung ini bisa dikombinasikan dengan bermacam aksesoris lain sehingga bisa dibentuk berbagai model yang bervariasi. Aksesoris yang biasa dipakai untuk pelengkap adalah korsase bunga dan bros tembaga.
Sedangkan kelemahan dari jilbab ini adalah cara pemakaiannya yang sedikit ribet dan membutuhkan ketelitian tinggi. Apalagi bila sudah dibentuk menjadi berbagai variasi, membuat model ini mudah berantakan. Senada dengan Norma, “Kalau tidak telaten merapikan jilbab ini bisa rusak dandanannya”, selorohnya.
Lebih lanjut, Norma mengatakan bahwa harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 40.000,00, Rp 80.000,00, sampai pada Rp 160.000,00 tergantung dari motif, lebar kerudung, dan kualitas bahan ceruti yang digunakan. “Semakin bagus dan lebar jilbabnya pasti semakin mahal”, tutup gadis yang sudah empat tahun bekerja di gerai yang terletak ini Jalan A. Yani Malioboro nomor 86 ini.

Mengabadikan Alam



 Oleh Arifin
Panorama alam sangat akan indah jika kita nikmati tak hanya pada saat kita berada di lokasi tersebut  saja. Mengabadikan sebuah moment atau panorama alam memang menjadikan sebuah kepuasan tersendiri. Banyak sekali fotografer-fotografer saat ini yang senang melakukan hunting foto dimanapun tempatnya agar bisa mendapatkan sebuah panorama yang indah dan bisa di abadikan. Kamera itu sendiri sekarang juga sudah bermacam-macam jenis dan harganya.
Dalam hal ini salah satu teman saya yang senang melakukan hunting foto ini memilih kamera DSLR Canon EOS 1000D untuk mengabadikan sebuah moment atau pun panorama alam tersebut. Beberapa orang memang menyebutkan untuk kamera DSLR Canon EOS 1000D ini bisa dibilang  sejajar dengan kamera DSLR Nikon 3000D. Karena  dengan spesifikasi-spesifikasi yang hampir sama.
Seperti halnya Wahyudin, mahasiswa Amikom Yogyakarta. ia menyebutkan kamera ini sejajar dengan Nikon 3000D, tetapi mahasiswa semester 5 ini lebih mantab menggunakan kamera Canon 1000D yang ia pakai saat ini. Menurutnya kamera ini memiliki beberapa spesifikasi yang tidak di miliki pada kamera-kamera yang sejajar dengan kamera ini.
Salah satu contohnya kamera ini bisa menggunakan liveView yaitu sebelum obyek tersebut diambil, pada layar kamera ini bisa terlihat tanpa harus membidik dengan cara mengintip pada lensa kecil yang ada di atas layar tersebut. Kamera ini juga sudah menggunakan system image stabilizer yaitu untuk mengurangi blur atau tidak fokus pada obyek yang kita ambil pada saat bergerak. “Salah satu contoh foto dengan kamera Canon EOS 1000D adalah  jembatan gantung di daerah Imogiri Bantul Yogyakarta belum lama ini” pungkas Yudin.

Fashion Tak Pandang Usia

Oleh Anisa Huda Ningtyas



Bulan Oktober ini merupakan bulan yang bersejarah bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Karena di bulan ini kaum melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam merupakan agama yang tidak mengenal status social ketika terjadi kesetaraan aktivitas saat manasik haji.
Suara Takbir keliling diiringi tabuhan bedug telah terdengar disetiap penjuru tempat, menunjukkan akan datangnya hari raya kurban. Seluruh masyarakat menyambut hari raya ini dengan suka cita. Suara takbir yang bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung dan tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah Tuhan semesta alam.
Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan sehingga mencapai titik fitrah yang suci, tetapi dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Oleh karena itu dihari tersebut ibadah yang paling utama adalah menyembelih kurban sebagai bantuan terhadap orang-orang miskin.
Dihari raya ini masyarakat mengenakan pakaian terbaik mereka, tidak kalah dengan pakaian yang dikenakan pada hari raya Idul Fitri. Bahkan ada sebagian masyarakat sengaja membeli baju baru untuk hari raya Idul Adha seperti tradisi yang dilakukan ketika akan menyambut hari raya Idul Fitri. Para pria terlihat gagah dengan mengenakan pakaian yang rapi, para wanita pun tidak kalah gaya dengan mengenakan pakaian yang menjadi trend masa kini walaupun tetap tidak mengurangi makna Islami didalamnya.
Seperti dikatakan Ibu Arum, bahwa untuk cantik dengan mengenakan pakaian yang trendy itu tidak harus saat hari penting saja melainkan dapat juga saat akan berangkat kerja atau jalan-jalan. Dan yang paling utama fashion itu tidak pernah memandang umur, mau remaja, ibu-ibu sampai orang tua pun tetap bisa tampil trendy. “Walaupun sudah punya putra tapi tetap gaya”, tambah ibu Arum.


Enaknya “Kamera Saku”


Oleh Arifin
Perkembangan dunia Fotografi, terus berkembang mengikuti perkembangan tekologi. Kini kamera Single-Lens Reflex (SLR) telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari dunia ini. Hanya saja penjualan kamera SLR masih kalah dengan kamera pocket atau kamera saku.

“Penjualan terbanyak tetap di pasar kamera pocket,” menurut penjual camera di salah satu gerai di Jogja Tronik, Yogyakarta, Senin (25/10/2012).

Menurutnya, kamera saku ini lebih flexibel dibawa dan mudah dioperasionalkan. Bahkan semua jenjang usia bisa menggunakan kamera ini diberbagai keperluan. Ini berbeda dengan kamera SLR yang butuh ketelitian untuk mendapatkan hasil maksimal.

“Untuk pocket kita bisa jual lebih banyak dari kamera SLR,” jelasnya.
Saat ini yang banyak dicari adalah kamera pocket yang memiliki megapixel tinggi, agar bisa dipakai di tempat gelap.

Yogyakarta merupakan salah satu kota dengan pasar kamera SLR yang bagus. Ini tidak lepas dari banyaknya mahasiswa yang menimba ilmu. Mahasiswa lebih tahu tehnik, jadi mereka suka kamera SLR, tetapi belum banyak yang mampu membeli kamera SLR.

Jas dan Kokoh yang Elegan

Oleh Adi Supriyanto



Umat muslim sedunia sedang lebaran idul Adha yang sering disebut hari kurban. Hari raya ini datang setahun sekali dan disertai dengan musim haji sebagai rukun Islam kelima. Pada pagi harinya disunnahkan untuk menunaikan sholat Idul Adha berjama’ah di masjid-masjid terdekat. Qurban yang dimaksudkan tersebut adalah menyembelih hewan korban seperti kambing, sapi, kerbau dan unta (untuk masyarakat Arab). Diwajibkan bagi mereka yang secara ekonomi mampu untuk membeli dan menyembelih hewan korban pada hari Idul Adha. Selain bersedekah juga untuk membantu mereka yang secara ekonomi kurang mampu dan mensejahterakan masyarakat sekitar agar mereka ikut merasakan kebahagiaan yang kita miliki semua sebagai umat Muslim.
            Dengan tradisi seperti ini masyarakat indonesia khususnya orang muslim tidak terlepas dari gaya busana pakaian muslim untuk menyambut hari raya idul adha. Mulai dari busana muslimah untuk perempuan dan muslim bagi yang laki-laki. Pada dasarnya dalam dunia fashion seorang perempuan itu lebih utama dalam penampilan maupun gaya, akan tetapi tahun-tahun ini seorang laki-laki pun ikut serta dalam trend masa kini.
            Model busana jas semi kokoh ini sedang hangat dikalangan pria muslim dalam melaksanakan ibadah maupun pada hari raya. Motif ini memiliki makna kewibawaan seseorang ketika memakai pakaian tersebut. Dengan warna yang tidak mencolok dan teduh dilihat oleh mata membutanya digemari oleh kalangan laki-laki dalam beribadah. “Saya merasa lebih dewasa ketika memakai pakaian ini, elegan, dan nyaman dalam melaksanakan aktivitas beribadah. Jas semi kokoh ini bisa digunakan dimanapun tempat dan bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekitar jadi saya lebih memilih busana ini karena mempunyai beberapa manfaat”, ujar Muhammad Fajar santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L Krapyak Yogyakarta.

Kamera Semanis Coklat


Oleh Tya Oktaviana
Memiliki kamera profesional tentu menjadi barang wajib bagi pecinta seni fotografi. Namun bagaimana jika buah hati anda yang menginginkannya?. Tentu bukan perkara mudah bagi orang tua untuk mewujudkan keinginan si buah hati mempunyai kameranya sendiri, terlebih untuk ukuran kamera DSLR yang harganya jutaan rupiah. Meski demikian bagi anda orang tua yang putra putrinya berjiwa fotografer, anda tidak perlu khawatir merogoh kocek terlalu dalam. Dengan modal delapan ratus ribu saja, anda sudah dapat memfasilitasi mereka berpetualang mencari objek yang menarik untuk difoto. Ya, dengan Fujifilm Instax Mini 7s Choco, mengabadikan gambar semanis coklat.
Kamera jenis polaroid ini kembali muncul bersaing di jamannya kamera era digital. Kamera instan yang langsung menghasilkan gambar usai dijeperet ini, nyatanya masih banyak diminati oleh sebagian orang. Ifadah Putri Nirmala misalnya, gadis belia ini genap dua tahun memiliki kamera jenis polaroid yang mampu menghasilkan gambar sebesar kartu kredit hanya dalam beberapa menit saja. Ia menuturkan bahwa kamera polaroid lebih disukainya dibandingkan kamera digital karena lebih cepat dalam menghasilkan gambar, sehingga tidak perlu repot-repot ke studio foto untuk mencetaknya. Selain itu sangat praktis dan modelnya anak muda banget, tambahnya.
Rupanya Fujifilm Meretro teknologi kamera polaroid lebih praktis dan instan dalam menghasilkan cetakan foto. Menurut Choiron, salah seorang pecinta kamera ketika ditemui memaparkan bahwa langkah yang diambil fujifilm memproduksi kembali jenis polaroid merupakan langkah berani mengingat trend alat penangkap gambar cenderung pada pengembangan kamera digital dengan memperbesar hasil resolusi gambar (megapixel). Bila Kodak Eastmen yang berusia 131 tahun sebagai pionir alat fotografi diambang penutupan, justru fujifilm terus bisa bertahan dengan inovasinya yang tidak bisa dipandang remeh, tambahnya.
Namun sayang, disamping model, bentuk, dan warna yang cocok untuk anak-anak, harga kertas kamera polaroid ini masih tetap mahal seperti generasi sebelumnya. Kertas foto untuk seri 7s (ukuran kartu ATM), tiap kotak isi 10 dibanderol 100.000 warna putih polos. Sementara kertas berwarna dihargai 125,000 per kotaknya. Artinya untuk tiap lembarnya seharga 10,000. Bandingkan dengan cetak foto distudio ukuran 3R yang tidak lebih dari 2,000. Tentu kertas polaroid ini masih terhitung amat mahal.